<<ABOUT :: PIECES OF MIND :: SPIRITUAL THOUGHT :: CIRCLE OF THOUGHTS

Friday, September 09, 2005

Revisi 1000-1-1

Well, belum sampe seminggu aku nulis artikel 1000-1-1, aku dah merasa harus merevisi artikel itu. Ini aku rasakan setelah membaca buku Ibuku Guruku: Belajar di Rumah dalam Balutan Kearifan dan Kehangatan (by Marty Layne, terbitan MLC, avalaible at Gramedia). Di luar judulnya yang bagiku agak norak, buku ini memberi masukan yang sangat banyak bagiku seputar pendidikan anak dalam keluarga. Tapi yang mau aku soroti di posting yang ini, yang berkaitan dengan kegemaranku menulis aja.

In the last few days, aku dengan cepat kembali cukup produktif dalam menulis. Memang terbukti target 1000 kata per minggu itu mendorongku untuk segera "menghabiskannya". Dan itu terbukti sampai hari ini target itu sudah terlampaui sampai mungkin hampir 1000 kata lebih. (I stop counting setelah target terlewati sebanyak 455 kata, melalui artikel yang terakhir yaitu Overwhelmed [About : Lemah Lembut].)

Tapi dari buku itu aku mendapat masukan bahwa berlatih (she was talking about practising music instruments) itu bukan soal lamanya latihan, tapi itu soal kedisiplinan berlatih tiap hari. "Lama waktu anak berlatih tidaklah sepenting berlatih setiap hari. .... Berlatih rutin setiap harilah yang membangun keterampilan dan kebiasaan. Melewatkan beberapa hari dan kemudian berlatih tiga kali lebih lama tidak akan mebuahkan keberhasilan." (halaman 272)

Dia memang sedang bicara latihan musik untuk anak. Tapi I guess itu bisa diterapkan dalam kehidupan orang dewasa. Sebenarnya aku secara sadar sudah menerapkan hal itu ketika membaca buku. Aku menetapkan target membaca 50-70 halaman per hari. Dan tentunya ini yang membangun kebiasaanku dan kemampuanku untuk membaca tiap hari. Akan lain ceritanya andai aku menghabiskan target membaca satu buku dengan cara menghabiskan buku itu waktu weekend aja. Itu sih ujung2nya bakal kayak beban berat aja. Lagipula aku punya kebiasaan untuk merenungkan, menyaring dan kemudian berusaha menerapkan apa yang baru aku baca (ingat, mostly yang aku baca bukan cerita fiksi lho). Jadi aku nggak terlalu suka kalo dalam waktu satu hari aku dapat banyak info sekaligus. I'm not saying kalo buku fiksi nggak bisa kasih masukan ya. Tapi bagaimanapun buku fiksi cenderung lebih ringan daripada buku non fiksi.

So, bagaimana dengan revisinya? I guess aku sekarang pingin pasang target untuk bisa nulis tiap hari. soalnya aku pingin membangun kebiasaan menulis tiap hari. Berapa banyak kata? Hmmm... let's see. I guess at least 150 words. Should be a piece of cake for me sih. Shi shi kan ba (=coba dulu lah). Tiap bulan tentu bakal ditingkatin jumlahnya. Dan harus mempertimbangkan yang terjadi tentunya. Meaning mungkin aja next month jumlah katanya langsung aku dobelkan kalo aku hampir selalu nulis sebanyak itu saban harinya. Penekanannya pada kebiasaan nulis daily dulu, baru meningkatkan jumlah kata2nya.

Kenapa sampe repot2 melatih diri sendiri menulis sih? Well, for one thing I know that my talent is writing. Aku pingin mengolah dan mengelola talenta ini agar terus berkembang dan bisa berbuah. Aku nggak punya target tertentu soal perkembangan dan buahnya. Yang aku tahu, kalo kamu melatih talenta kamu, sudah jelas talenta kamu bakal berkembang. Skill yang berkaitan dengan talenta kamu bakal makin canggih. Lagipula kalo kamu punya talenta tapi nggak terus kamu latih, lama2 bisa ilang lho.

Dan kalo kamu nanya kok bisa aku sampe pegang, beli trus baca buku tentang pendidikan anak, well itu sih another story lagi dalam another posting di another page. (note : kalo kata posting-nya belum bisa diklik, artinya posting yang berkaitan belum selesai ditulis.) Heheheeee.... Tapi, meskipun sebenarnya buku ini ngebahas tentang menyekolahkan anak di rumah, aku SANGAT merekomendasikan buku ini untuk setiap orang yang tertarik untuk mendidik orang lain/ diri sendiri; khususnya ortu yang punya anak usia balita sampai belasan. Untuk pembaca dewasa yang pingin menerapkan buku ini ke diri sendiri, buku ini bisa mendorong kamu untuk berani mencoba (tergantung sudut pandang kamu), dan menjadi lebih seperti childlike (NOT CHILDISH). Bagiku, aku jadi lebih punya niat untuk mengeksplorasi style penulisan yang ada. Hasilnya : sajak Huanying dan juga artikel Data-Data. Style sajak sangat jarang aku gunakan dalam menulis, tapi sekarang aku jadi lebih berani untuk bereksperimen dengan style2 penulisan yang jarang atau nggak pernah aku pakai. Who knows nantinya aku bakal nulis dengan style apa lagi.

Note to my sister : GO BUY AND READ THIS BOOK! =p